Pendidikan,
inilah pengawalan kata yang akan kita bahas dalam tulisan ini. Namun pendidikan
yang dikaji ini, bukanlah tentang Undang-Undang atau Tata Hukumnya, kita lebih
mengedepankan tentang gaya pendidikan
dewasa ini.
Pendidikan merupakan
wahana yang baik bagi masyarakat untuk merubah pola pola berpikir dan juga
untuk mengetahui apa yang tidak diketahuinya. Seyogyanya, pendidikan merupakan
hal penting dalam kehidupan didunia ini, karena pengaruh pendidikan meluas
hingga akhir hayat seorang pengenyam pendidikan. Paparan diatas merupakan
sebagian kecil makna pendidikan tersebut.
Pendidikan di
Indonesia.
Pendidikan
di Indonesia berdasarkan sistematikanya, pertama tama kita harus melalui yang
namanya sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah atas, berlanjut ke Perguruan
Tinggi menjadi mahasiswa.
Ketika saya mulai
berlanjut dari sekolah menengah atas,biasanya harus berjuang dahulu untuk
melanjutkan studi ke perguruan tinggi
melalui ujian saringan. Jika lulus maka pilihan dalam data yang di isi untuk
persyaratan menjadi mahasiswa di perguruan tinggi adalah tempat baru bagi
pemenang ujian, yaitu Universitas **** .
Beranjak dari seorang
siswa menjadi mahasiswa tidaklah mudah, karena porsi yang dahulu harus disimpan
dan dibuang atau meningkatkan secara signifikan pola pembelajaran. Pembelajaran
awal mulai dilalui di Universitas, pada perjalanan mahasiswa mengikuti
perkuliahan, mahasiswa akan kebingungan dengan materi materi yang diberikan
oleh dosen yang mengampuh mata kuliah.
Contoh : Dosen Y yang
sangat antusias dalam memberikan materi, ketika dosen ini mulai mengajarkan
materi, banyak sekali yang kurang dimengerti dengan penjelasan tersebut, di
karenakan sekarang mahasiswa kemungkinan telah mengambil jurusan yang berbeda
dengan waktu masih berada di sekolah menengah atas. Mahasiswa mulai menarik kesimpulan kesimpulan dari
penjelasan tersebut, tanpa sengaja perihal itu membangkitkan semangat mahasiswa
atau malah menjatuhkannya dikarenakan materi yang diberikan berbeda dengan pada
umumnya. Pribadi mahasiswa memang berubah setelah mendapat seorang pengajar
yang seperti itu polanya. Setelah berlanjut kehari hari berikutnya, mahasiswa
baru akan kebingungan lagi, kali ini dosen X dengan sistem yang konservatif,
dimana selalu mendikte dan merasa benar,ketika mahasiswa memberikan pendapat
yang berlawanan maka selalu saja dipatahkan dan tidak diperluas kajian yang
dibahas. Kemungkinan para pembaca sudah mengalami sendiri perihal seperti ini
di Universitas masing masing, namun bukanlah metode dosen yang saya ceritakan
disini, tetapi gaya mahasiswa dalam menghadapi pendidikan, menghadapi
kebisaannya dalam mengemban arti mahasiswa yang sebenar-benarnya. Cerita kita
lanjutkan dengan sedikit kritis terhadap gaya mahasiswa dewasa ini, dalam
menghadapi dua contoh diatas tadi, maka kita paparkan sedikit dalam melihat
mahasiswa menghadapi keadaan seperti itu.
Seorang Mahasiswa A,
mahasiswa A ini sebenarnya kurang berminat dengan yang dinamakan penceritaan
atau lebih dikenal dengan berbicara dengan penjelasan, mahasiswa A ini lebih
suka dengan model pembelajaran yang ditulis lalu dicatat, ketika si mahasiswa
mendengar perilaku dari Dosen X, biasanya perihal yang dilakukan oleh mahasiswa
ini adalah berpura pura mendengarkan, lalu berpura pura menggoreskan penanya
didalam bukunya, tetapi dalam
penglihatan dosen Y mahasiswa ini tidaklah tertarik dengan metode yang
diberikannya, sehingga biasanya dosen Y ini melakukan shockterapy dengan
menunjuk ke mahasiswa tersebut dengan pertanyaan yang disajikannya, terlebih
apakah dia mendengar atau hanya berlalu saja, sedang pada dosen X biasanya
hanya berlalu saja, dosen Y yakin bahwa si mahasiswa ini sudah paham dan
mengerti tentang kejelasan dari apa yang diberikannya pada pembelajaran. Dari
contoh ini maka terdapat metode yang berbeda dari apa yang diberikan dosen
tersebut.
Seorang Mahasiswa B,
mahasiswa B ini berkarakterkan urak urakan dan bergaya acuh, ketika dosen X
mengajarkan pembelajaran kepada mahasiswa B biasanya mahasiswa B acuh padahal
mahasiswa B ini sedikit paham dan sedikit mengerti dengan penjelasan dari dosen
X tersebut, namun karena gaya dan tingkah lakunya, maka dosen X menganggap
mahasiswa B tersebut kurang aktif dan tidak mengerti dalam pembelajaran. Sedang
pada dosen Y mahasiswa ini berbeda sekali pola tingkah lakunya, ketika
berhadapan dengan dosen Y. Mahasiswa ini lebih antusias dari yang dibayangkan,
dan lebih serius dari Mahasiswa A tersebut, .
Pertanyaan yang
didengungkan dalam pikiran pembaca adalah, apakah ini kesalahan metode
mahasiswa atau kesalahan metode dosen?
Berlanjut ketika mulai dikeluarkannya
nilai dari semua pembelajaran yang dilakukan, disinilah mulai banyak kekecewaan
daripada pemberian hasil belajar para mahasiswa yang merasa dirinya itu sudah
giat atau bahkan dengan nada kekecewaan sering melontarkan kata “dosen tidak
objektif”. Memang nilai bukanlah segalanya, namun ketika berbenturan dengan era
globalisasi, di Indonesia nilai adalah suatu keharusan dalam mencari
pembelajaran sedang skill atau bisanya mahasiswa dalam menguasai materi
ditentukan oleh seberapa tinggi nilai IP mereka. Ketika mahasiswa kritis mulai
timbul dalam penilaiannya, mahasiswa ini merasakan hal hal yang aneh dalam
penilaian akhir mereka, memang pada kenyataannya tidaklah mungkin untuk melihat
kemampuan begitu banyak mahasiswa secara per orangan, yang disesalkan mahasiswa
kritis ini adalah mengapa mahasiswa yang lain yang merupakan mahasiswa ugal
ugalan mendapat nilai yang lebih baik dari dirinya. Kemungkinan perihal ini
juga sering terjadi didalam keseharian pembaca, namun siapakah yang harus
disalahkan, ataukah kita terus menyalahkan? Seharusnya mahasiswa tidak
mempertentangkan tentang seberapa tinggi nilainya tetapi seberapa bisa mereka
menguasai daripada mahasiswa punya jurusan. Nah gaya ini mungkin sering dipakai
oleh para pembaca, setidaknya ketika mengalami hal hal ini lagi, dapat
memperluas daripada tulisan yang masih banyak kesalahan ini, semoga
bermanfaat..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar